Efek Keracunan MBG Belum Tuntas, 45 Santri Ponpes di Sidoarjo Kembali Dirawat

Terkini 11 Sep 2026 08:57 2 min read 11 views By DG/Redaks Humas
Efek Keracunan MBG Belum Tuntas, 45 Santri Ponpes di Sidoarjo Kembali Dirawat
Ancaman keracunan belum tuntas; sebanyak 45 santri Ponpes Manba'ul Hikam Sidoarjo terpaksa dilarikan kembali ke RSUD R.T. Notopuro dan RSI Siti Hajar akibat gejala gangguan pencernaan menu MBG yang kambuh secara mendadak. Kondisi dinding lambung yang belum pulih sepenuhnya membuat para santri kembali mengalami mual, muntah, hingga lemas hebat sehingga membutuhkan penanganan medis susulan. Kejadian berulang ini tidak hanya memperpanjang masa perawatan para santri, tetapi juga memicu trauma mendalam serta kekhawatiran besar di kalangan orang tua murid.

Gelombang efek samping dugaan keracunan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berdampak pada para santri di Pondok Pesantren Manba'ul Hikam, Kabupaten Sidoarjo. Sebanyak 45 santri yang sebelumnya sempat menjalani perawatan dan dinyatakan membaik, terpaksa dilarikan kembali ke fasilitas kesehatan pada Senin malam hingga Selasa (8/9) setelah gejala gangguan pencernaan mereka mendadak kambuh.

 

Proses penanganan medis dilakukan secara terpisah di dua rumah sakit terdekat. Sebanyak 33 santri dirujuk ke RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo sejak kurun waktu malam hari, sedangkan 12 santri lainnya mendapatkan tindakan medis di RSI Siti Hajar Sidoarjo. Sebagian besar pasien datang dengan kondisi fisik yang menurun akibat serangan gejala susulan.

 

Tim medis mengonfirmasi bahwa para santri mengeluhkan keluhan klinis yang seragam, seperti mual hebat, muntah, diare, serta rasa lemas pada tubuh. Berdasarkan evaluasi pihak rumah sakit, kembalinya gejala ini diduga kuat karena lapisan dinding lambung para santri belum pulih sepenuhnya dari peradangan awal, sehingga daya tahan tubuh mereka masih sangat sensitif terhadap gangguan pencernaan.

 

Meskipun sebagian besar santri diperbolehkan kembali ke pondok usai mendapatkan tindakan darurat dan pengobatan rawat jalan, beberapa santri hingga kini masih harus menjalani pemantauan di ruang rawat inap. Kejadian berulang ini memicu kecemasan tinggi di kalangan wali murid, di mana sejumlah orang tua menyatakan rasa trauma dan enggan membiarkan anak-anak mereka mengonsumsi kembali hidangan dari program tersebut.